Selain sejarah, aspek lain yang menarik untuk diulas adalah tradisi budaya Saparan yang rutin dijalankan pada bulan Sapar. Hal ini berkaitan dengan matapencaharian warga masyarakat Kwagon sebagai pengrajin genting. Banyak warga menggantungkan hidupnya pada industri pembuatan genting ini. Proses pembuatan genting mengambil bahan baku tanah lempung (tanah yang mengandung kaolin) dari gunung Bakungan. Pekerjaan yang dilakukan warga antara lain meliputi: penggali tanah, pengusung (pembawa) lempung, hingga membuat adonan, mencetak, membakar, dan menjual genting.
Agar kegiatan industri genting berlangsung dengan aman, Kepala Dukuh Kwagon mengajak warganya untuk mengadakan kegiatan merti dusun, yaitu mengadakan acara selamatan, mengirim doa bagi keselamatan seluruh warga. Hal ini awalnya disebabkan saat warga mengambil tanah lempung di pegunungan pernah mengalami beberapa kecelakaan. Misalnya yang pernah terjadi, ada yang tertimbun tanah longsor, kendaraannya terbalik di gunung, atau ada faktor lain yang tidak biasa dan bernuansa mistik. Setelah ada beberapa kejadian itu, warga membuat doa mohon keselamatan.
Awalnya doa dilakukan secara pribadi hanya oleh warga yang akan mengambil tanah lempung saja. Selanjutnya, berkembang selain berdoa, warga juga membuat kenduri kecil di tiap lokasi pengambilan tanah/lempung. Bahkan akhirnya, tradisi berdoa ini makin menguat, hingga sampai sekarang dilakukan bersama-sama sebagai kegiatan padukuhan secara kolektif. Dengan menimbang berbagai hal, akhirnya tradisi doa ini diorganisir di wilayah satu Padukuhan Kwagon dan disatukan dengan kenduri massal yang dirakit dalam Saparan.
Tradisi Saparan di sini mempunyai beberapa keunikan yang berbeda dengan Saparan di beberapa wilayah lain. Hari yang dipilih untuk melaksanakan Saparan Kwagon menggunakan hari Minggu Legi. Maknanya, diambil nama legi dengan harapan semoga masyarakat Kwagon mendapat kehidupan yang manis seperti madu. Selama beberapa waktu sebelum pandemi, tradisi Saparan dilakukan dengan meriah, termasuk memberi hiburan kepada masyarakat. Selama seminggu warga akan dihibur dengan berbagai atraksi kesenian yang ditampilkan warga masyarakat sendiri, dengan aneka kesenian trandisional. Yang khas ditampilkan misalnya kesenian hadroh, jathilan, dan keberadaan Bergada Kisma Kuncoro. Adanya bergada ini juga karena ada tradisi kirab Saparan ini.
Untuk melakukan kirab, warga membuat banyak gunungan, berupa gunungan genting, hasil bumi, dan termasuk gunungan tanah lempung. Usai dikirab, lempung dibagi rata bagi para perajin genting. Demikian pula gunungan hasil bumi dan apem, yang akan diperebutkan oleh peserta kirab dan warga setempat.
Dalam acara kirab merti Padukuhan Kwagon yang dilaksanakan terakhir di tahun 2019, juga dipentaskan Fragmen “Dumadine Kwagon”, yang mengisahkan berdirinya Padukuhan Kwagon. Upacara merti Padukuhan ini sekaligus sebagai napak tilas cikal bakal Pusaka Kyai Batu Liman, yakni Kyai Puspo Nagara yang dimiliki kedua mantan punggawa Mataram, selaku cikal bakal Dukuh Kwagon. Kirab budaya berjalan menuju Bukit Bendo Bakungan Kwagon dari halaman rumah Dukuh Kwagon.
Ada tembang macapat Asmaradana yang selalu dilagukan dalam kesempatan kirab, yaitu Wekdal Tari Tani Para Putri, yang liriknya sebagai berikut.
Para putri nambut kardi/kalem priya ngabdi praja/kanggo cagak mring uripe/nandur pari palawija/among katerak ing ama/bulu bekti lan pisungsung/kagem ing Praja Mataram. Panandhange kaum putri/nggula wenthah bale wisma/nenuntun mring pra putrane/nyambi garap tegal sawah/cecawis boga lan wastra/atine mung kudu teguh/kumesar rasaning nala.
Pelepasan burung merpati menjadi tanda dimulainya kirab. Urutan kirab disusun dari depan, terdiri atas: umbul-umbul, tari massal (keseluruhan), tari/joget rasekso/buta (rampak Buto), formasi gunung dengan umbul-umbul, tari Makarya 1, sesaji/doa permohonan oleh ulama (kyai) dengan macapat, tari Makarya Putra, dan tari Makarya Putri. Pentas kirab juga disesuaikan dengan urutan kirab, diawali tarian prajurit yang bersenjata tombak, disusul dengan tarian Tani Puteri, dan ditutup dengan tari Makarya. Di sela tari Tani Puteri, masuklah rombongan raksasa Buto Cakil yang mengganggu para penari. Namun, Buto Cakil bisa dikalahkan oleh sejumlah petani yang bersenjatakan cangkul. “Rangkuman cerita itu dari penelusuran sejarah dan cerita orang-orang tua,” jelas Sukiman Hadi Wijaya, sesepuh sekaligus Dukuh Kwagon.
Penulis : V. Maria Murwaningsih
