KWAGON : Kisah Kyai Batu Liman

08/09/2025

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Sejarah Padukuhan Kwagon ternyata sangat terkait dengan Kerajaan Mataram yang kemudian menjadi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terutama saat masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana V.

Pada saat itu situasi masih memanas karena peperangan rakyat melawan penjajah Belanda. Sebagai pihak yang berkuasa, Belanda terus melakukan penindasan kepada rakyat dengan menyuruh mereka melakukan banyak pekerjaan berat. Namun, permintaan bekerja itu sering tidak disertai dengan ketersediaan fasilitas pendukung atau jaminan kesejahteraan yang mencukupi. Akibatnya, rakyat makin menderita, termasuk adanya berbagai pungutan pajak atau tuntutan penyerahan hasil bumi kepada Belanda.

Di sisi lain, para penguasa kerajaan kurang memberi perhatian kepada rakyat dan justru bersahabat dengan para penjajah. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan dan kemarahan pada beberapa punggawa yang mempunyai perhatian serta kepedulian kepada rakyat. Akibat desakan kemarahan dan besarnya penderitaan yang dialami, lalu pecahlah pemberontakan dan perang melawan para penjajah. Di mana-mana terjadi peperangan melawan Belanda, meskipun terjadi secara parsial atau sendiri-sendiri di berbagai wilayah. Padukuhan Kwagon juga merasakan hal itu. Kondisi perang makin diperparah dengan situasi kerajaan dan pemerintahan yang propenjajah, karena raja masih belum sepenuhnya percaya bahwa penjajah Belanda telah menindas rakyatnya. Karena situasi itu, dua orang punggawa kerajaan, yaitu Ki Tumenggung Reksa Menggala dan Ki Tumenggung Puspa Negara, meminta kepada raja untuk memutus hubungan dengan Belanda. Permintaan yang disampaikan dalam satu pisowanan agung itu ditolak raja. Akibatnya, karena rasa kecewa kedua punggawa itu meninggalkan keraton tanpa restu.

Keduanya meninggalkan keraton dan berjalan menuju ke arah barat sambil membawa dua pusaka berupa tombak Kyai Brojo dan Kyai Naga Wilongo. Akhirnya, perjalanan mereka sampai di wilayah perdesaan yang subur di kawasan pegunungan yang sekarang dikenal dengan Pegunungan Bendo Bakungan. Wilayah yang subur dan asri ini membuat kedua punggawa itu tertarik untuk tinggal dan memulai hidup baru di sana. Keduanya kemudian menyepakati untuk meninggalkan hidup mereka sebagai punggawa kerajaan dan memulai hidup sebagai petani. Namun, agar tidak mencolok dan membuat warga setempat bertanya-tanya, keduanya lantas bersemedi untuk memohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Akhirnya, Ki Tumenggung Reksa Menggala mengganti pusaka yang dibawanya menjadi Kyai Batu Liman.

Kemudian kedua mantan punggawa itu mulai menjalani hidup berdampingan dengan warga setempat yang bekerja sebagai petani. Mereka berdua juga melihat bahwa ada sumber bahan baku tanah  yang  dapat digunakan untuk membuat batu-bata dan genteng karena melihat bahwa cara bertani warga setempat sangat sederhana, yaitu hanya mengandalkan hidup dari tanaman yang tumbuh di alam dan tanpa diolah, keduanya mulai menunjukkan perannya. Kedua sosok pendatang dari kerajaan itu mengajarkan warga untuk bercocok tanam di sawah, bahkan mulai menggali tanah untuk dibuat genting.

Proses untuk belajar bertani dan mengolah lahan pertanian tidak berjalan dengan mudah. Kaum laki-laki tidak banyak yang menjadi petani pengolah lahan. Mereka sudah mempunyai pekerjaan sesuai dengan perintah raja, yaitu menanan tebu untuk dibuat gula dan bahan bakar. Selain itu, para penjajah juga memaksa mereka bekerja sebagai kuli tanpa bayaran di bawah ancaman. Tentu saja situasi itu sangat sulit dijalani masyarakat. Kedua punggawa itu juga tidak bisa berbuat banyak. Selanjutnya, mereka berdua mengajak dan menggerakkan warga Padukuhan yang ada, yaitu kaum perempuan, untuk belajar bertani dan mengolah lahan dengan cara yang lebih baik. Meskipun awalnya sulit, karena tidak terbiasa, namun mereka akhirnya menjalani sesuai permintaan kedua mantan punggawa itu.

Karena belum terbiasa, cara warga masyarakat itu bekerja tampak kurang luwes, kaku atau dalam Bahasa Jawa disebut wagu. Melihat kondisi itu, Ki  Tumenggung Reksa  Menggala lantas   berucap: “Mula mbesuk yen ana rejane jaman, papan iki dak jenengi Desa Wagon.” Hal itu diterima oleh masyarakat, dan lama-kelamaan nama Desa Wagon ini berubah menjadi Kwagon seperti sekarang. Hal ini dituturkan kembali oleh Kepala Dukuh Kwagon, Sukiman Hadi Wijaya, yang juga seorang abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Begitulah akhirnya masyarakat dapat menjalani kehidupan sebagai petani dengan menambahkan pengolahan lahan, tidak hanya  sekadar  menanam di lahan tersedia saja,  sehingga  hasil  pertanian lebih baik dan banyak. Masyarakat juga dibantu belajar membuat genting dari tanah lempung ‘liat’ yang diambil dari Pegunungan Bakungan. Setelah menjalani hidup bersama masyarakat sekian waktu, kedua mantan punggawa itu meninggal dunia. Setelahnya, Tumenggung Reksa Menggala dimakamkan di bukit yang terkenal dengan sebutan Pasarean Batu (Tapak) Liman, sedangkan Tumenggung Puspa Negara dimakamkan di sebelah utaranya disebut Pasarean Puspa Negara.

Selain sejarah, aspek lain yang menarik untuk diulas adalah tradisi budaya Saparan yang rutin dijalankan pada bulan Sapar. Hal ini berkaitan dengan matapencaharian warga masyarakat Kwagon sebagai pengrajin genting. Banyak warga menggantungkan hidupnya pada industri pembuatan genting ini. Dari jumlah warga 235 KK, ada sebanyak 667 orang merupakan perajin genteng. Dari 58 lokasi tobong genting yang ada di dusun ini, sekarang tinggal 42 buah. Proses pembuatan genting mengambil bahan baku tanah lempung (tanah yang mengandung kaolin) dari gunung Bakungan. Pekerjaan yang dilakukan warga antara lain meliputi: penggali tanah, pengusung (pembawa) lempung, hingga membuat adonan, mencetak, membakar, dan menjual genting.

Agar kegiatan industri genting berlangsung dengan aman, Kepala Dukuh Kwagon mengajak warganya untuk mengadakan kegiatan merti dusun, yaitu mengadakan acara selamatan, mengirim doa bagi keselamatan seluruh warga. Hal ini awalnya disebabkan saat warga mengambil tanah lempung di pegunungan pernah mengalami beberapa kecelakaan. Misalnya yang pernah terjadi, ada yang tertimbun tanah longsor, kendaraannya terbalik di gunung, atau ada faktor lain yang tidak biasa dan bernuansa mistik. Setelah ada beberapa kejadian itu, warga membuat doa mohon keselamatan.

Awalnya doa dilakukan secara pribadi hanya oleh warga yang akan mengambil tanah lempung saja. Selanjutnya, berkembang selain berdoa, warga juga membuat kenduri kecil di tiap lokasi pengambilan tanah/lempung. Bahkan akhirnya, tradisi berdoa ini makin menguat, hingga sampai sekarang dilakukan bersama-sama sebagai kegiatan padukuhan secara kolektif. Dengan menimbang berbagai hal, akhirnya tradisi doa ini diorganisir di wilayah satu Padukuhan Kwagon dan disatukan dengan kenduri massal yang dirakit dalam Saparan.

Tradisi Saparan di sini mempunyai beberapa keunikan yang berbeda dengan Saparan di beberapa wilayah lain. Hari yang dipilih untuk melaksanakan Saparan Kwagon menggunakan hari Minggu Legi. Maknanya, diambil nama legi dengan harapan semoga masyarakat Kwagon mendapat kehidupan yang manis seperti madu. Selama beberapa waktu sebelum pandemi, tradisi Saparan dilakukan dengan meriah, termasuk memberi hiburan kepada masyarakat. Selama seminggu warga akan dihibur dengan berbagai atraksi kesenian yang ditampilkan warga masyarakat sendiri, dengan aneka kesenian trandisional. Yang khas ditampilkan misalnya kesenian hadroh, jathilan, dan keberadaan Bergada Kisma Kuncoro. Adanya bergada ini juga karena ada tradisi kirab Saparan ini.

Untuk melakukan kirab, warga membuat banyak gunungan, berupa gunungan genting, hasil bumi, dan termasuk gunungan tanah lempung. Usai dikirab, lempung dibagi rata bagi para perajin genting. Demikian pula gunungan hasil bumi dan apem, yang akan diperebutkan oleh peserta kirab dan warga setempat.

Dalam acara kirab merti Padukuhan Kwagon yang dilaksanakan terakhir di tahun 2019, juga dipentaskan Fragmen “Dumadine Kwagon”, yang mengisahkan berdirinya Padukuhan Kwagon. Upacara merti Padukuhan ini sekaligus sebagai napak tilas cikal bakal Pusaka Kyai Batu Liman, yakni Kyai Puspo Nagara yang dimiliki kedua mantan punggawa Mataram, selaku cikal bakal Dukuh Kwagon. Kirab budaya berjalan menuju Bukit Bendo Bakungan Kwagon dari halaman rumah Dukuh Kwagon.

Ada tembang macapat Asmaradana yang selalu dilagukan dalam kesempatan kirab, yaitu Wekdal Tari Tani Para Putri, yang liriknya sebagai berikut.

Para putri nambut kardi/kalem priya ngabdi praja/kanggo cagak mring uripe/nandur pari palawija/among katerak ing ama/bulu bekti lan pisungsung/kagem ing Praja Mataram.

Panandhange kaum putri/nggula wenthah bale wisma/nenuntun mring pra putrane/nyambi garap tegal sawah/cecawis boga lan wastra/atine mung kudu teguh/kumesar rasaning nala.

Pelepasan burung merpati menjadi tanda dimulainya kirab. Urutan kirab disusun dari depan, terdiri atas: umbul-umbul, tari massal (keseluruhan), tari/joget rasekso/buta (rampak Buto), formasi gunung dengan umbul-umbul, tari Makarya 1, sesaji/doa permohonan oleh ulama (kyai) dengan macapat, tari Makarya Putra, dan tari Makarya Putri. Pentas kirab juga disesuaikan dengan urutan kirab, diawali tarian prajurit yang bersenjata tombak, disusul dengan tarian Tani Puteri, dan ditutup dengan tari Makarya. Di sela tari Tani Puteri, masuklah rombongan raksasa Buto Cakil yang mengganggu para penari. Namun, Buto Cakil bisa dikalahkan oleh sejumlah petani yang bersenjatakan cangkul. “Rangkuman cerita itu dari penelusuran sejarah dan cerita orang-orang tua,” jelas Sukiman Hadi Wijaya, sesepuh sekaligus Dukuh Kwagon.

Salah seorang warga Padukuhan Kwagon, sekaligus perangkat Desa Sidorejo yang ditemui penulis adalah Frida Auliasari, yang mengurusi bagian keuangan (Danarta). Ia menyatakan kegembiraannya saat mengisahkan tentang Saparan Kwagon yang telah dilihat dan dialaminya sejak kecil. “Ada banyak kesenian, orang berjualan, penampilan tarian sebelum dilakukan kirab. Jika pagi sudah kirab lalu siang nanti ada kesenian jathilan. Yang menarik Bregada prajurit itu selalu ada dan menjadi pertunjukan yang dinantikan.”

Menurutnya pula, tradisi unik ini merupakan kesempatan yang baik untuk menghidupkan seni budaya lokal selain menjadi kesempatan meningkatkan pendapatan rumah tangga, misalnya dengan berjualan selama pekan seni Saparan berlangsung. Saat ditanya mengenai anak-anak muda milenial yang saat ini banyak bergelut dengan arus modern, Frida menyatakan bahwa mereka juga tertarik dan mudah diajak terlibat dalam kegiatan Saparan ini. Mereka akan ikut serta menjadi bagian pelaksana kegiatan atau pengisi kesenian, atau bagian dari pelaksanaan kirab budaya Saparan Kwagon.

Pelestarian seni budaya tidak terlepas pula dari pewarisan mata pencarian masyarakat. Seperti halnya Frida, yang mengisahkan bahwa kakeknya adalah seorang pengrajin genting. Usaha itu diteruskan oleh ayahnya, meskipun saat ini anak-anaknya atau para saudara Frida tidak semuanya menekuni industri genting atau batu-bata lagi karena perkembangan situasi. Hal ini tetap membuktikan bahwa pewarisan seni budaya dan tradisi termasuk penghidupan masyarakat masih akan berlangsung dengan baik karena tata kehidupan masyarakat setempat tidak mengalami banyak perubahan. Namun, ada kondisi lain, yaitu dukungan perubahan sarana produksi yang digunakan masyarakat saat ini makin maju. Pemakaian alat angkut bermotor (traktor) untuk membawa tanah bahan baku genting ke lokasi produksi menjadikan Kwagon juga sentra alat produksi genting.

 

Penulis : V. Maria Murwaningsih